Rabu, 09 Februari 2011

AKAR (RADIX)

Sifat-sifat akar :

  1. Bagian tumbuhan yang umumnya terdapat di dalam tanah.
  2. Arah tumbuh ke pusat bumi (geotrop) atau menuju ke air (hidrotop).
  3. Tidak berbuku maupun beruas sehingga tidak mendukung tumbuhnya daun.
  4. Tumbuh terus pada ujungnya.

Fungsi akar :

  1. Memperkuat berdirinya tumbuhan.
  2. Untuk menyerap air dan zat-zat yang terlarut di dalam air tadi dari dalam tanah.
  3. Mengangkut air dan zat-zat makanan tadi ke bagian lain dari tumbuhan.
  4. Terkadang sebagai tempat penimbunan cadangan makanan.

Bagian akar :

  1. Leher akar atau pangkal akar (collum), yaitu bagian yang bersambungan langsung dengan batang.
  2. Ujung akar (apex radicis), bagian akar yang paling muda, terdiri atas jaringan-jaringan yang masih mengadakan pertumbuhan.
  3. Batang akar (corpus radicis), bagian akar yang terdapat di antara leher akar dan ujungnya.
  4. Cabang-cabang akar (radix lateralis), bagan akar yang keluar dari akar pokoknya dan masing-masing dapat mengadakan percabangan lagi.
  5. Serabut akar (fibrilla radicalis), cabang-cabang akar yang halus dan berbentuk serabut.
  6. Rambut akar atau bulu akar (pilus radicalis), bagian akar yang sesungguhnya hanyalah penonjolan sel-sel kulit luar akar yang berfungsi menyarap air.
  7. Tudung akar (calyptra), bagain akar yang letaknya paling ujung, terdiri atas jaringan yang berguna untuk melindungi ujung akar yang masih muda.
Pada tumbuhan yang berkembang biak secara generatif, dalam biji sudah terdapat calon akar atau akar lembaga (radicula). Pada perkembangan selanjutnya, jika biji mulai berkecambah sampai menjadi tumbuhan dewasa, akar lembaga dapat memperlihatkan perkembangan yang berbeda hingga pada tumbuhan lazimnya dibedakan dua jenis sistem perakaran, yaitu :
  1. Sistem akar tunggang, jika akar lembaga terus bertumbuh menjadi akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yang lebih kecil. Akar pokok yang berasal dari akar lembaga disebut akar tunggang (radix primaria). Sistem akar ini biasa terdapat pada tumbuhan biji belah (Dycotildoneae) dan tumbuhan biji telanjang (Gymnospermae). Perlu di ingat, sistem akar tunggang hanya di temukan pada tanaman yang berkembang biak secara generatif (melalui biji).
  2. Sistem akar serabut, dimana jika akar lembaga dalam perkembangan lanjutannya mati atau kemudian pertumbuhannya disusul oleh sejumlah akar yang kurang lebih sama besar dan semuanya keluar dari pangkal batang. Karena bentuknya seperti serabut maka akar ini di sebut akar serabut (radix primaria).

Sabtu, 29 Januari 2011

Daun

Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya berwarna hijau dan terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari melalui fotosintesis. Daun merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organisme autotrof obligat, ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energi cahaya menjadi energi kimia.


Morfologi

Bentuk daun sangat beragam, namun biasanya berupa helaian, bisa tipis atau tebal. Gambaran dua dimensi daun digunakan sebagai pembeda bagi bentuk-bentuk daun. Bentuk dasar daun membulat, dengan variasi cuping menjari atau menjadi elips dan memanjang. Bentuk ekstremnya bisa meruncing panjang.
Daun juga bisa bermodifikasi menjadi duri (misalnya pada kaktus), dan berakibat daun kehilangan fungsinya sebagai organ fotosintetik. Daun tumbuhan sukulen atau xerofit juga dapat mengalami peralihan fungsi menjadi organ penyimpan air.

Daun segar (kiri) dan tua. Daun tua telah kehilangan klorofil sebagai bagian dari penuaan.
Warna hijau pada daun berasal dari kandungan klorofil pada daun. Klorofil adalah senyawa pigmen yang berperan dalam menyeleksi panjang gelombang cahaya yang energinya diambil dalam fotosintesis. Sebenarnya daun juga memiliki pigmen lain, misalnya karoten (berwarna jingga), xantofil (berwarna kuning), dan antosianin (berwarna merah, biru, atau ungu, tergantung derajat keasaman). Daun tua kehilangan klorofil sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah (dapat dilihat dengan jelas pada daun yang gugur).

Jumat, 28 Januari 2011

Morfologi Tumbuhan

Morfologi Tumbuhan adalah ilmu yang mengkaji berbagai organ tumbuhan, baik bagian-bagian, bentuk maupun fungsinya.
Secara klasik, tumbuhan terdiri dari tiga organ dasar:

Akar
Batang
Daun


AKAR



Akar adalah bagian pokok di samping batang dan daun bagi tumbuhan yang tubuhnya telah merupakan kormus.

Sifat-sifat akar:

  1.  Merupakan bagian tumbuhan yang biasanya terdapat di dalam tanah, dengan arah tumbuh ke pusat bumi (geotrop) atau menuju ke air (hidrotrop), meninggalkan udara dan cahaya.
  2. Tidak berbuku-buku, jadi juga tidak beruas dan tidak mendukung daun-daun atau sisik-sisik maupun bagian-bagian lainya.
  3. Warna tidak hijau, biasanya keputih-putihan atau kekuning-kuningan.
  4. Tumbuh terus pada ujungnya, tetapi umumnya pertumbuhannya masih kalah pesat jika dibandingkan dengan bagian permukaan tanah.
  5. Bentuk ujungnya seringkali meruncing, hingga lebih mudah untuk menembus tanah.

Fungsi akar bagi tumbuhan:

  1. Memperkuat berdirinya tumbuhan.
  2. Untuk menyerap air dan zat-zat makanan yang terlarut di dalam air tersebut dari dalam tanah.
  3. Mengangkut air dan zat-zat makanan yang sudah diserap ke tempat-tempat pada tubuh tumbuhan yang memerlukan.
  4. Kadang-kadang sebagai tempat untuk penimbunan makanan.

Jenis akar

Secara umum, ada dua jenis akar yaitu:

  1. Akar serabut. Akar ini umumnya terdapat pada tumbuhan monokotil. Walaupun terkadang, tumbuhan dikotil juga memilikinya (dengan catatan, tumbuhan dikotil tersebut dikembangbiakkan dengan cara cangkok, atau stek). Fungsi utama akar serabut adalah untuk memperkokoh berdirinya tumbuhan.
  2. Akar tunggang. Akar ini umumnya terdapat pada tumbuhan dikotil. Fungsi utamanya adalah untuk menyimpan makanan.

Modifikasi akar

  1. Akar Napas. Akar naik ke atas tanah, khususnya ke atas air seperti pada genera Mangrove (Avicennia, Soneratia).
  2. Akar Gantung. Akar sepenuhnya berada di atas tanah. Akar gantung terdapat pada tumbuhan epifit Anggrek.
  3. Akar Banir. Akar ini banyak terdapat pada tumbuhan jenis tropik.
  4. Akar Penghisap. Akar ini terdapat pada tumbuhan jenis parasit seperti benalu.

BATANG

Batang merupakan bagian dari tumbuhan yang amat penting, dan mengingat serta kedudukan batang bagi tubuh tumbuhan, batang dapat disamakan dengan sumbu tubuh tumbuhan. Pada umumnya batang mempunyai sifat-sifat berikut:
  1. Umumnya berbentuk panjang bulat seperti silinder atau dapat pula mempunyai bentuk lain, akan tetapi selalu bersifat aktinomorf.
  2. Terdiri atas ruas-ruas yang masing-masing dibatasi oleh buku-buku dan pada buku-buku inilah terdapat daun.
  3. Biasanya tumbuh ke atas menuju cahaya atau matahari (bersifat fototrop atau heliotrop)
  4. Selalu bertambah panjang di ujungnya, oleh sebab itu sering dikatakan, bahwa batang mempunyai pertumbuhan yang tidak terbatas.
  5. Mengadakan percabangan dan selama hidupnya tumbuhan, tidak digugurkan, kecuali kadang-kadang cabang atau ranting yang kecil.
  6. Umumnya tidak berwarna hijau, kecuali tumbuhan yang umurnya pendek, misalnya rumput dan waktu batang masih muda.

DAUN

Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya berwarna hijau dan terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari melalui fotosintesis. Daun merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organisme autotrof obligat, ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energi cahaya menjadi energi kimia.
Morfologi
Bentuk daun sangat beragam, namun biasanya berupa helaian, bisa tipis atau tebal. Gambaran dua dimensi daun digunakan sebagai pembeda bagi bentuk-bentuk daun. Bentuk dasar daun membulat, dengan variasi cuping menjari atau menjadi elips dan memanjang. Bentuk ekstremnya bisa meruncing panjang.

Daun juga bisa bermodifikasi menjadi duri (misalnya pada kaktus), dan berakibat daun kehilangan fungsinya sebagai organ fotosintetik. Daun tumbuhan sukulen atau xerofit juga dapat mengalami peralihan fungsi menjadi organ penyimpan air.

Warna hijau pada daun berasal dari kandungan klorofil pada daun. Klorofil adalah senyawa pigmen yang berperan dalam menyeleksi panjang gelombang cahaya yang energinya diambil dalam fotosintesis. Sebenarnya daun juga memiliki pigmen lain, misalnya Karoten (berwarna jingga), Xantofil (berwarna kuning), dan Antosianin (berwarna merah, biru, atau ungu, tergantung derajat keasaman). Daun tua kehilangan klorofil sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah (dapat dilihat dengan jelas pada daun yang gugur).

Fungsi
  • Tempat terjadinya fotosintesis.
Pada tumbuhan dikotil, terjadinya fotosintesis di jaringan Parenkim Palisade. sedangkan pada tumbuhan monokotil, fotosintesis terjadi pada jaringan spons.
  • Sebagai organ pernapasan.
Di daun terdapat stomata yang befungsi sebagai organ respirasi (lihat keterangan di bawah pada Anatomi Daun).
  • Tempat terjadinya transpirasi.
  • Tempat terjadinya gutasi.
  • Alat perkembangbiakkan vegetatif.

Misalnya pada tanaman cocor bebek (tunas daun).
Anatomi

Organ-organ lain dapat digolongkan sebagai organ sekunder karena terbentuk dari modifikasi organ dasar. Beberapa organ sekunder dapat disebut sebagai organ aksesori, karena fungsinya tidak vital. Beberapa organ sekunder penting:

BUNGA

Bunga (flos) atau kembang adalah struktur reproduksi seksual pada tumbuhan berbunga (divisio Magnoliophyta atau Angiospermae, “tumbuhan berbiji tertutup”). Pada bunga terdapat organ reproduksi (benang sari dan putik). Bunga secara sehari-hari juga dipakai untuk menyebut struktur yang secara botani disebut sebagai bunga majemuk atau inflorescence. Bunga majemuk adalah kumpulan bunga-bunga yang terkumpul dalam satu karangan. Dalam konteks ini, satuan bunga yang menyusun bunga majemuk disebut floret.

Bunga berfungsi utama menghasilkan biji. Penyerbukan dan pembuahan berlangsung pada bunga. Setelah pembuahan, bunga akan berkembang menjadi buah. Buah adalah struktur yang membawa biji.

Fungsi bunga :

Fungsi biologi bunga adalah sebagai wadah menyatunya gamet jantan (mikrospora) dan betina (makrospora) untuk menghasilkan biji. Proses dimulai dengan penyerbukan, yang diikuti dengan pembuahan, dan berlanjut dengan pembentukan biji.

Beberapa bunga memiliki warna yang cerah dan secara ekologis berfungsi sebagai pemikat hewan pembantu penyerbukan. Beberapa bunga yang lain menghasilkan panas atau aroma yang khas, juga untuk memikat hewan untuk membantu penyerbukan.

Manusia sejak lama terpikat oleh bunga, khususnya yang berwarna-warni. Bunga menjadi salah satu penentu nilai suatu tumbuhan sebagai tanaman hias.

Morfologi bunga

Bunga adalah batang dan daun yang termodifikasi. Modifikasi ini disebabkan oleh dihasilkannya sejumlah enzim yang dirangsang oleh sejumlah fitohormon tertentu. Pembentukan bunga dengan ketat dikendalikan secara genetik dan pada banyak jenis diinduksi oleh perubahan lingkungan tertentu, seperti suhu rendah, lama pencahayaan, dan ketersediaan air (lihat artikel Pembentukan bunga).

Bunga hampir selalu berbentuk simetris, yang sering dapat digunakan sebagai penciri suatu takson. Ada dua bentuk bunga berdasar simetri bentuknya: aktinomorf (“berbentuk bintang”, simetri radial) dan zigomorf (simetri cermin). Bentuk aktinomorf lebih banyak dijumpai.


Bunga disebut bunga sempurna bila memiliki alat jantan (benang sari) dan alat betina (putik) secara bersama-sama dalam satu organ. Bunga yang demikian disebut bunga banci atau hermafrodit. Suatu bunga dikatakan bunga lengkap apabila memiliki semua bagian utama bunga. Empat bagian utama bunga (dari luar ke dalam) adalah sebagai berikut:
  • Kelopak bunga atau calyx;
  • Mahkota bunga atau corolla yang biasanya tipis dan dapat berwarna-warni untuk memikat serangga yang membantu proses penyerbukan;
  • Alat kelamin jantan atau androecium (dari bahasa Yunani andros oikia: rumah pria) berupa benang sari;
  • Alat kelamin betina atau gynoecium (dari bahasa Yunani gynaikos oikia: “rumah wanita”) berupa putik.


Organ reproduksi betina adalah daun buah atau carpellum yang pada pangkalnya terdapat bakal buah (ovarium) dengan satu atau sejumlah bakal biji (ovulum, jamak ovula) yang membawa gamet betina) di dalam kantung embrio. Pada ujung putik terdapat kepala putik atau stigma untuk menerima serbuk sari atau pollen. Tangkai putik atau stylus berperan sebagai jalan bagi pollen menuju bakal bakal buah.

Walaupun struktur bunga yang dideskripsikan di atas dikatakan sebagai struktur tumbuhan yang “umum”, spesies tumbuhan menunjukkan modifikasi yang sangat bervariasi. Modifikasi ini digunakan botanis untuk membuat hubungan antara tumbuhan yang satu dengan yang lain. Sebagai contoh, dua subkelas dari tanaman berbunga dibedakan dari jumlah organ bunganya: tumbuhan dikotil umumnya mempunyai 4 atau 5 organ (atau kelipatan 4 atau 5) sedangkan tumbuhan monokotil memiliki tiga organ atau kelipatannya.


Senin, 03 Januari 2011

Informasi Pembayaran SPP Semester Genap TA 2010/2011

Informasi pembayaran SPP semester genap TA 2010/2011
angkatan 2006-2010 melalui online(ATM BNI seluruh indonesia) tgl : 3-21 januari 2011. atau MANUAL di (Teller BNI kantor cabang bengkulu) F.pertanian tgl : 19-21 januari 2011 atau baca selengkapnya di http://www.unib.ac.id/news.show.php?id=393&cs_id=9

Kamis, 09 Desember 2010

Pengantar Jenis Hayati

Jenis Hayati | Pengantar Jenis Hayati |Sampai saat ini indonesia diketahui masih menduduki urutan kedua dalam hal kekayaan jenis hayati. negara pertama adalah brazil. tingginya keanekaragaman ini didukung oleh berbagai hal,antara lain :
  1. Wilayah indonesia terletak pada dua kawasan Biogeografi yaitu Oriental dan Australasia sehingga Indonesia memiliki sebagian kekayaan jenis hayatiAsia dan sebagian jeniAustralia sebagai "modal" keanekaragaman jenis yang dimiliki.
  2. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki berbagai tipe topografi yang dapat berfungsi sebagai penghalang perpindahan anggota berbagai jenis hayati,atau memiliki faktor alam yang khas sehingga memungkinkan terbentuknya anak jenis serta jenis baru dari "modal" jenis yang telah ada (ad.1). Proses terbentuknya anak jenis baru,apalagi jenis baru,dapat memerlukan waktu sampai jutaan tahun.
  3. Indonesia terletak di daerah tropika yang merupakan salah satu saran migrasi satwa dari belahan bumi utara serta belahan bumi selatan sehingga indonesai mendapat tambahan kekayaan jenis hayati dari prilaku migrasi.

Minggu, 28 November 2010

Taman Nasional Zamrud dan Spirit Pelestarian Hutan


|Laju kerusakan hutan| di tanah air beberapa dekade terakhir sungguh sangat memprihatinkan. Akibatnya, Indonesia mengalami kerugian material dan nonmaterial yang sangat besar, baik berupa rusaknya kekayaan hayati yang terdapat di dalam hutan maupun bencana alam yang menimbulkan korban jiwa.
Riau sebagai salah satu daerah yang memiliki kawasan hutan sangat luas juga mengalami hal yang serupa. Aktivitas illegal logging telah menghancurkan sebagian besar kawasan hutan di Riau, bahkan kawasan yang berstatus taman nasional sekalipun. Ironisnya, banyak pemerintah daerah yang kurang peduli dengan kondisi ini.

Di tengah keprihatinan kita akan ancaman kerusakan hutan ini, muncul sebuah upaya untuk kembali memperbaiki kondisi hutan alam yang rusak tersebut. Adalah Pemerintah Kabupaten Siak yang kini secara serius mencoba mengoptimalkan pengembangan Taman Nasional Zamrud (TNZ). Sebuah kawasan seluas 38.500 hektar di Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak yang memiliki potensi keindahan alam dengan berbagai sumber daya hayati dan ekosistem unik yang bisa dimanfaatkan bagi kemakmuran rakyat.

Menurut Bupati Siak Arwin AS, timbulnya ide mengembangkan TNZ berawal dari rasa prihatin karena tidak terurusnya kawasan suaka margawatwa Danau Pulau Besar dan Danau Pulau Bawah. Di kawasan konservasi seluas 25.000 hektar itu terjadi perambahan hutan, penebangan liar, penangkapan ikan dan kebakaran hutan dan lahan. Padahal di dalam lokasi itu terdapat keunikan ekosistem rawa gambut dengan berbagai keanekaragaman jenis flora dan fauna.

Pada tahun 2002 Menteri Lingkungan Hidup masa itu, Nabiel Makarim menganjurkan agar Pemkab Siak menjadikan kawasan sebagai Taman Nasional. Salah satu jalannya adalah merangkul seluruh pihak agar kawasan itu tetap lestari dan terjaga. Anjuran ini kemudian dilakukan Pemkab Siak dan menuai hasil dengan diperolehnya kawasan seluas 38.500 hektar untuk dijadikan Taman Nasional Zamrud.

Upaya keras yang dilakukan Pemkab Siak ini tentu saja pantas mendapat acungan jempol sekaligus dukungan serius dari seluruh stake holder. Pengembangan Taman Nasional Zamrud harus terus berjalan karena akan menjadi sebuah spirit dan motivasi bagi daerah-daerah lain untuk melakukan hal yang serupa.

Pemerintah provinsi, perusahaan-perusahan besar yang beroperasi di daerah ini, kalangan kampus, aktivis lingkungan serta seluruh masyarakat di daerah ini harus bahu membahu, baik dalam memberikan pemikiran maupun dukungan dana untuk bisa mewujudkan terciptanya sebuah kawasan taman nasional yang bisa dinikmati oleh anak cucu kita di masa datang. Semoga…

Kondisi Aktual Kawasan Hutan Lindung.

|Kondisi Aktual Kawasan Hutan Lindung.|Berdasarkan peta kesepakatan hutan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) Propinsi Kalimantan Tengah yang telah direvisi pada tahun 1993 dan Rencana Tataruang Wilayah Kabupaten Murung Raya tahun 2003, lokasi kawasan Hutan Lindung di wilayah Landskap Maruwai tersebar di 13 lokasi.


Lokasi Hutan Lindung berdasarkan Peta TGHK Propinsi Kalteng (1993)


Lokasi Hutan Lindung berdasarkan Peta RTRWK (2003)


Lokasi Hutan Lindung berdasarkan Peta Draft RTRWK (2008)

Terlihat, walaupun memiliki sebaran jumlah yang sama, akan tetapi lokasi dan bentuk arahan HL memiliki
perbedaan yang cukup signifikan. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan peta dasar yang dimiliki intansi yang mengeluarkan penunjukan kawasan HL. Hal yang sama juga terjadi pada penunjukan kawasan hutan lainnya, seperti Hutan Produksi, Hutan Produksi Terbatas maupun hutan kawasan konservasi.
Perbedaan ini menyebabkan banyak kawasan Hutan Lindung menjadi tidak aman dari sisi kepastian hukum, proses penataan batas hutan lindung sendiri sebagian besar telah dilakukan, walaupun keberadaan pal batas di lapangan sebagai titik acuan seringkali sulit untuk ditelusur.

Luas total HL berdasarkan RTRWK adalah 429.546 Ha, sedangkan berdasarkan TGHK adalah 464.713 Ha. Terdapat perbedaan selisih sebesar 35.166 Ha.

Penunjukan kawasan Hutan Lindung pada periode tahun 1990-an menunjukan bahwa banyak kawasan-kawasan HL berada pada lokasi yang tidak sesuai dengan criteria lahan/kawasan yang dapat dijadikan kawasan HL. Hal ini disebabkan karena minimnya informasi yang akurat pada saat penunjukan.